Home » , » Tradisi Mudik dan Silaturahmi

Tradisi Mudik dan Silaturahmi

Written By ABDUL WARIS HASRAT on Rabu, 07 Agustus 2013 | 08.50

Motor di-Bengkel-in dulu, agar perjalanan mudik aman
Tiap tahun pada saat menjelang lebaran, istilah Mudik yang konon katanya hanya ada di Indonesia memang santer terdengar, bahkan sangat sering terucap dan sampai ditelinga kita.

Melalui portal ini saya mencoba menulis sedikit saja mengenai mudik, ya salah satu alasannya karena sehabis lebaran idul Fitri di Lapangan STKIP Muhammadiyah Bone rencananya mau "mudik" dari Bone ke Sinjai, yang jaraknya hanya 70Km. dan memanfaatkan libur Redaksi selama empat hari (istilah kasarnya sih melarikan diri dari tugas peliputan karena teman-teman di redaksi juga pada mudik semuanya hehehehe)

Mudik adalah sebuah tradisi, namun bukanlah tradisi orang Bugis. Dari data yang saya dapatkan Mudik itu adalah tradisi suku Jawa. Istilah “mudik” berasal dari kata “udik” yang artinya desa; dusun; kampung, dan pengertian lain yang maknanya adalah lawan dari kota. Mudik berarti pulang ke udik atau pulang ke kampung halaman bersamaan dengan datangnya Idul Fitri atau Lebaran, Sedangkan mudik menurut Kamus Bahasa Indonesia WJS Poerwadarminta (1976) adalah pulang ke udik atau pulang ke kampung halaman bersamaan dengan datangnya hari lebaran. Mudik menjadi euforia tersendiri bagi sebagian besar orang, karena hanya di rayakan setiap tahun sekali khususnya yang ada di kota besar metropolitan. Jadi menurut saya intinya adalah pada saat lebaran, orang yang dalam perantauan pulang kampung.

Awalnya, mudik merupakan tradisi primordial masyarakat petani Jawa bahkan sejak sebelum masa Kerajaan Majapahit. Tradisi petani ini saat pulang ke desanya adalah membersihkan pekuburan makam leluhurnya.

Tradisi tersebut bertujuan agar perantau "Suku Jawa" diberi keselamatan dalam mencari rezeki dan keluarga yang ditinggalkan aman dan tenteram. Tradisi pulang ke kampung halaman setahun sekali ini terus bertahan apalagi dengan adanya Idul Fitri atau Lebaran. Itulah sebabnya, kebanyakan masyarakat Jawa yang mudik selalu menyempatkan diri berziarah dan membersihkan kuburan keluarga serta leluhurnya.

Namun menurut saya tradisi Mudik tidak cocok dengan kebiasaan orang-orang Bugis, (ini hanya pendapat saya.) karena kebiasaan orang bugis yang merantau diluar sana menetap dan menjadi warga di tanah perantauannya kemudian berketurunan disana. Berbeda dengan daerah asal muasal tradisi mudik ini, yang menjadikan tanah perantauan sebagai tempat mencari nafkah hingga suatu saat akan kembali ke kampung halamannya.

Namun saya sangat sepakat jika euforia mudik khas Indonesia itu menjadi ajang bersilaturahmi kepada orangtua, kerabat, dan tetangga, walaupun sebenarnya bersilaturahmi itu jangan saja pada saat lebaran saja.

Selain itu, ajang berbagi kepada sanak saudara yang telah lama ditinggal untuk ikut merasakan keberhasilannya dalam merantau. Mudik sendiri bermakna terapi psikologis memanfaatkan libur Lebaran  untuk berwisata bersama keluarga setelah setahun sibuk dalam rutinitas pekerjaan sehingga saat masuk kerja kembali memiliki semangat baru.

Ok Bro, Selamat Bermudik...dan Mohon Maaf Lahir dan Batin
Share this article :

0 komentar:

Poskan Komentar



 
Redaksi : Waris Hasrat | Facebook
Copyright © 2013. catatan online - All Rights Reserved